Abun Sanda Sangat Memperhatikan Detail

Written By Unknown on Monday, April 8, 2013 | 2:55 PM


KOMPAS.com- Jenazah Abun Sanda dimakamkan, Senin (8/4/2013) pagi tadi di Taman Kenangan Lestari, Karawang, Jawa Barat. Wartawan Kompas ini meninggal akibat serangan jantung, Kamis sebelumnya pukul 17.05 WIB, sesaat setelah dia merampungkan tulisannya soal teladan kewirausahawan pengusaha Ciputra.


Tidak saja kedua anaknya dan kerabat yang kehilangan. Tetapi juga para sahabat, narasumber, rekan kerja, dan juga warwatan muda. Di mata sejumlah wartawan muda termasuk saya, almarhum Abun Sanda yang biasa menulis dengan inisial "AS" merupakan sosok berbeda dari kebanyakan wartawan senior. Dalam menulis, dia sangat memperhatikan detail.


Begitu pula dalam cara melihat persoalan, dia juga melakukan pendekatan-pendekatan yang berbeda. Karena itu tidak jarang artikel-artikelnya di Kompas, belakangan di kolom Ekonomi, acap kali mengilhami banyak orang.


Memberikan inspirasi, dan menunjukkan betapa sudut pandang penulisan dalam melihat suatu permasalahan, membawa hal baru yang selalu menarik didiskusikan, dipertentangkan, dianalisa, dan pada akhirnya menginspirasi dan membangun kesadaran baru.


Meski saya baru bergabung sebagai wartawan Kompas sejak 2002, tetapi saya mengenal Abun Sanda sejak 1999. Saat itu Abun Sanda menjadi Wakil Editor Desk Hukum Kompas, dan saya sebagai mahasiswa, kebetulan diberi kesempatan magang sebagai wartawan Kompas di desk tersebut.


Meski saya hanya mahasiswa, dia sangat memerhatikan. Mengajarkan saya bagaimana cara menulis berita yang baik dan benar, dan bagaimana harus hati-hati dalam memilih dan menuangkan setiap kata dalam tulisan jurnalistik. "Meski hanya "satu kata", bila tidak dituangkan secara tepat dan termuat di media massa, bisa menjadi masalah besar," begitu pesannya waktu itu.


Mungkin karena dia sarjana hukum, sehingga dia sangat memahami risiko hukum yang ditimbulkan akibat ketidakhati-hatian saat menulis. Pada saat meliput bersama di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dalam persidangan kasus tukar guling Bulog-Goro (1999), dia sangat gelisah melihat seorang pengunjung sidang di tengah pengunjung lain yang berjubel di ruang sidang, menonton proses sidang sambil kakinya naik di atas kursi karena pandangannya terhalang pengunjung lain.


Saat itu dia bilang ke saya, betapa pengadilan di Indonesia tidak dihargai. Hal kecil itu dia tunjukkan untuk memberikan makna betapa hukum di Indonesia tidak berwibawa.


Ketika saya menjadi calon wartawan tahun 2002, dan Abun Sanda menjadi Wakil Kepala Desk Metropolitan, saya ditugasi meliput jatuhnya pesawat latih di Curug, Tangerang. Ketika saya membuat judul dan menulis kata "jatuh", dia mempertanyakan makna kata itu. "Bagimana posisi jatuhnya?" Sesuatu yang tidak terbayangkan saat itu.


Dia bilang bahwa istilah jatuh bermacam-macam. Dari posisi jatuh, dia katakan, bisa menjadi pintu masuk untuk mengungkap apa penyebab di balik kecelakaan itu. Pada saat itu, pesawat jatuh menghunjam.


Ketika saya ditugaskan di Bogor, saat berkunjung ke Bogor, Abun Sanda gelisah merasakan Bogor yang mulai panas udaranya. Ketika itu, dia bilang ke saya: coba telusuri, apakah Bogor memang masih kota hujan? Ternyata kecurigaannya terbukti, dari hasil penelitian saat itu, curah hujan di Bogor sudah mulai berkurang dibanding dulu. Lalu saya membuat tulisan yang mempertanyakan Bogor sebagai Kota Hujan. Tulisan itu menginspirasi, menantang orang berdiskusi dan melakukan penelitian lebih mendalam.


Begitu juga ketika banyak media massa menulis Bogor sebagai "Kota Seribu Angkot". Dia mempertanyakan istilah itu, karena lalu lintas di Bogor selalu macet, terlalu banyak angkot. Dari diskusi dengan almarhum saat itu, saya telusuri dan ternyata jumlah angkot yang melintasi Kota Bogor lebih dari 1.000 unit.


Melihat fakta itu, dan dalam upaya mengingatkan Pemerintah Kota Bogor soal ancaman kemacetan, Abun Sanda menyarankan agar ada istilah baru bagi Kota Bogor. Kenapa hanya seribu angkot, kenapa tidak sejuta angkot saja? Benar juga nyatanya ketika tulisan "Bogor Kota Sejuta Angkot" muncul di Kompas ada 2003, berita itu juga menjadi bahan diskusi panjang yang menarik.


Ketika saya bertugas di Jakarta, dan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso saat itu ragu-ragu memutuskan proyek busway karena banyak yang menentang, Abun Sanda yang saat itu sebagai Kepala Desk Metropolitan, meminta saya membuat sebuah tulisan yang memberi dukungan pada kebijakan bagus itu.


Pengalamannya melihat moda transportasi di kota-kota besar di dunia membuat dia memandang busway sangat diperlukan di Jakarta. Dia tidak mau terjebak dalam pro-kontra, tetapi ingin segera mewujudkannya.


Setelah saya berdiskusi dengannya, saya akhirnya menulis feature terkait persoalan kemacetan di Jakarta dengan judul: Gubernur Sutiyoso Harus Berani.


Merasa mendapat dukungan, Sutiyoso terus maju melawan berbagai kritik. Busway berhasil diwujudkan, dan sekarang terbukti bermanfaat. Tulisan saya juga mendapatkan penghargaan jurnalistik MH Thamrin.


Ketika permukiman warga miskin di samping Mall Taman Anggrek Jakarta mau digusur, dia meminta saya merekam detik-detik malam menjelang penggusuran dan suara batin warga, yang ternyata begitu mencekam.


Begitu pula ketika mengangkat isu soal kemiskinan nelayan, dia minta agar kita sebagai wartawan ikut merasakan sulitnya menjadi nelayan, dengan ikut pergi melaut. Ketika mendengar ada tukang bubur mati gantung diri, insting wartawannya muncul. Dia melakukan penyelidikan, hasilnya terungkap bahwa penyebab tukang bubur mati menggantung karena putus asa dagangannya sering digusur aparat trantib.


Ketika diangkat menjadi Direktur Bisnis Kompas, Abun Sanda "menularkan" demam jurnalisme di bagian bisnis. Konsumen pemasang iklan tidak saja disuguhi halaman display, tetapi juga diberi pilihan untuk bisa beriklan dalam format artikel-artikel menarik dalam bentuk advertorial. Peminatnya luar biasa, dan gagasannya banyak ditiru dan menginspirasi media lain.


Begitu pula ketika dia menjadi wartawan senior Kompas, dan menulis analisa soal properti. Tulisannya soal teknik memasarkan properti sangat menyentak dan menginspirasi. Saat itu dia menulis konsumen di Jakarta lebih suka beli rumah dengan harga selangit dengan segala embel-embel kemewahan dalam promosinya dibanding harga yang rasional. Itu mengapa rumah di Jakarta justru laris manis dijual pada harga Rp 2 miliar per unit, dengan sedikit menambah kemewahan di sana-sini dan untung yang berlipat, dibanding dengan menjual dengan harga yang wajar.


Abun Sanda juga sosok pekerja keras. Dia membagi tips bagaimana menjadi wartawan yang produktif, dengan menulis memanfaatkan waktu di pagi hari saat pikiran masih segar. Tak jarang almarhum datang ke kantor pukul 05.30 WIB untuk menulis, memulai kerja jurnalistiknya.


Sekarang, Abun Sanda telah tiada. Dia berpulang ke rumah Bapa. Berbagai pelajaran jurnalistiknya soal detail, cara pandang masalah, rasa ingin tahu, dan penulisannya selalu terngiang di telinga saya, dan mungkin wartawan muda lainnya. Selamat jalan Mas Abun.






Editor :


Marcus Suprihadi









Anda sedang membaca artikel tentang

Abun Sanda Sangat Memperhatikan Detail

Dengan url

http://mobile-sulition.blogspot.com/2013/04/abun-sanda-sangat-memperhatikan-detail.html

Anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya

Abun Sanda Sangat Memperhatikan Detail

namun jangan lupa untuk meletakkan link

Abun Sanda Sangat Memperhatikan Detail

sebagai sumbernya

0 komentar:

Post a Comment

techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger