Demi MRT, Masyarakat DKI Harus Berkorban

Written By Unknown on Thursday, October 10, 2013 | 2:55 PM






JAKARTA, KOMPAS.com --
Kepala Dinas Perhubungan DKI Udar Pristono mengungkapkan kemacetan yang bakal ditimbulkan akibat pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) di Jakarta ke depan tidak bisa dihindari. Meski pihaknya dengan kepolisian telah mempersiapkan rekayasa lalu lintas, dia tetap minta agar masyarakat rela berkorban jika situasi lalu lintas bakal menjadi tak nyaman.


"Butuh pengertian dan pengorbanan masyarakat supaya jangan melewati jalan-jalan di jalur pembangunan. Gunakan lah jalan alternatif," ujarnya usai groundbreaking di Dukuh Atas, Jakarta, Kamis(10/10/2013) pagi.


Menindaklanjuti bakal terjadinya kepadatan kendaraan di jalur-jalur yang dilewati proyek MRT, Dinas Perhubungan DKI serta Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, telah menyiapkan sistem pengaturan lalu lintas baru, yakni Traffic Management Buring Contraction (TMBC).


Prinsip sistem itu, terang Udar, membagi beban jalan yang terkena imbas MRT ke jalan yang lain. Sebagai contoh, bagi masyarakat yang bekerja di Fatmawati, dapat menggunakan jalan lainnya yang ada di sekitarnya, misalnya Jalan Anatasari dan Jalan Kemang.


Demikian juga ketika pembangunan MRT telah mencapai Jalan Sisimangaraja, masyarakat menggunakan jalan lain, misalnya Jalan Tendean, Jalan Asia Afrika dan seterusnya.


Dalam skema TMBC, lanjut Udar, juga telah disiapkan pengganti ruas jalan yang terkena imbas pembangunan proyek MRT, yakni dengan cara melakukan pelebaran jalan. Dengan demikian, lebar jalan secara umum hanya bergeser saja dan tidak berubah lebarnya.


"Misalnya daerah Thamrin. Ada pembangunan, otomatis menyempit. Nanti digeser, entah trotoar atau saluran airnya, sehingga jumlahnya dan lebarnya lajur tetap sama," lanjut Udar.


Tak hanya itu, TMBC juga mengatur proses loading atau unloading di titik yang akan dibangun MRT hanya diperbolehkan dari pukul 02.00 WIB hingga 05.00 WIB dini hari. Dengan demikian, jumlah jalur tetap bertahan di posisi yang semula.


Udar menjelaskan dinasnya telah menyiapkan dua langkah sosialisasi, yakni dalam bentuk hardware atau software. "Kalau hardware itu dengan rambu lalu lintas. Kalau software melalui web, internet dan sebagainya," ujarnya.


MRT Jakarta akan membentang dari Lebak Bulus sampai Bundaran HI dengan jalur sepanjang 16 kilometer. MRT akan dibagi menjadi dua, yakni Lebak Bulus-Sisimangaraja menggunakan jalur layang (elevated), sedangkan Sisimangaraja-Bundaran HI menggunakan jalur bawah tanah atau underground. Proyek tersebut diprediksi rampung awal 2018 yang akan datang. 





Editor : Eko Hendrawan Sofyan
















Anda sedang membaca artikel tentang

Demi MRT, Masyarakat DKI Harus Berkorban

Dengan url

http://mobile-sulition.blogspot.com/2013/10/demi-mrt-masyarakat-dki-harus-berkorban.html

Anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya

Demi MRT, Masyarakat DKI Harus Berkorban

namun jangan lupa untuk meletakkan link

Demi MRT, Masyarakat DKI Harus Berkorban

sebagai sumbernya

0 komentar:

Post a Comment

techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger